pengelolaan domain dan hosting

pengelolaan domain dan hosting

Banyak di antara kita yang merasa tidak paham soal dunia hosting dan domain kemudian menyerahkan pengelolaan nama domain dan hosting ke teman maupun orang lain. Awalnya memang tidak ada masalah, justru karena hal tersebut banyak yang berfikir bahwa dengan bantuan tersebut kita tidak perlu ribet untuk bisa memiliki sebuah website atau blog dengan Top Level Domain (TLD) sesuai keinginan. Tetapi, menyerahkan pengelolaan domain dan hosting mulai dari pendaftaran hingga perpanjangan dsb tak selamanya mempermudah kita, banyak kasus justru hal tersebut berakibat datangnya masalah untuk web atau blog yang kita kelola. Dan sampai sekarang – minggu lalu, tepatnya akhir April 2016 – pun saya masih menemui bahkan ikut terjun membantu menyelesaikan persoalan tersebut.

Sudah berulang kali saya menemukan masalah yang terjadi akibat pengelolaan domain & hosting diserahkan penuh ke orang lain ini. Bahkan seperti yang saya bilang di atas, akhir bulanΒ lalu pun salah satu teman dari Surabaya, harus mengikhlaskan blog yang sudah dirintisnya sejak beberapa tahun terakhir hilang lantaran teman yang dipercaya untuk mendaftarkan domain dan hostingnya tidak dapat dihubungi lagi, hilang entah ke mana saat blognya tersuspend oleh pengelola hosting lantaran ada malfunction di blognya.

Sesuai LOA dari penyedia hosting, jika terjadi masalah dengan webhosting, penyedia dapat membantu jika pemilik web hosting meminta bantuan lewat tiket support. Tiket support ini baru bisa dibuat jika kita login ke client area yang disediakan oleh penyedia hosting. Sayangnya, di kasus teman saya ini dan di banyak kasus serupa, pemilik web atau blog benar-benar tidak punya akses di level tersebut, dia hanya punya akses ke dashboard web atau blognya saja. Binggo, dengan terputusnya hubungan dengan teman atau orang yang dipasrahi untuk mengelola domain atau hosting, maka tidak ada yang bisa dilakukan untuk membenahi masalah blognya.

Apa yang dialami teman saya tadi hanyalah sedikit permasalahan yang muncul karena pengelolaan domain dan hosting diserahkan sepenuhnya ke orang lain. Permasalahan yang muncul tersebut antara lain:

Data WhoIs Domain Tak Sama dengan Data Pribadi atau Perusahaan

Setiap Domain yang didaftarkan, registrar membutuhkan data dan informasi dari penanggungjawab atau pemilik domain. Masalahnya adalah, jika kita pasrah ombyokan ke orang lain, kadang orang yang kita percayai untuk mendaftarkan domain kita mengisi data dan informasi yang diperlukan registrar tersebut asal-asalan. Dan tak jarang jika orang yang mendaftarkan tersebut menggunakan satu akun, yakni akun pribadi atau perusahaan dia dan tidak mengubah atau menambahkan data dan informasi yang sesuai, maka saat di cek di who.is data dan informasi kepemilikan domain tidak merujuk ke diri atau perusahaan kita.

Walaupun sebagaian orang ada yang menginginkan data WhoIs domainnya tak ingin diketahui oleh orang lain dengan memanfaatkan fitur WhoIS Privacy, data atau informasi WhoIs domain ini penting, terlebih bagi pelaku usaha jual beli online atau perusahaan. Untuk pribadi pun juga tak kalah pentingnya, terlebih bagi mereka yang ingin membangun branding dirinya.

Jadi kan tidak lucu, ketika domain kamu atau perusahaan dicek di who.is, yang muncul nama dan alamat saya yang notabene bukan pemilik domain tersebut. Bayangkan kalau domain itu dibuat jualan atau bisnis. Beberapa calon pembeli kadang melakukan kroscek informasi alamat di web dengan yang tertera di WhoIs. Meski bisa berkilah bahwa data WhoIs adalah tim yang mengelola, tetapi alangkah baiknya jika data di web dan di WhoIs sama.

Rawan Penyalahgunaan.

Karena kita tidak memiliki kontrol penuh pada hosting dan domain kita, jika di kemudian hari terjadi perselisihan dengan orang yang kita pasrahi untuk mengelola domain, ada kemungkinan orang yang kita percayai tersebut dapat berbuat hal yang tidak diinginkan.

Beberapa kali saya menemui dan membantu menyelesaikan kasus ini. Biasanya, karena selisih paham, pengelola lari, website diubrak-abrik dan ditinggal begitu saja. Yang paling parah, nama domain dan hosting diakuisisi. Karena kita tidak punya kontrol dan tidak bisa menuntut balik dan memohon ke registrar ataupun penyedia web hosting untuk mengembalikan pengelolaan domain dan hosting ke kita karena kita tidak punya akses ke level itu, bisa dipastikan kita hanya melongo melihat blog atau web perusahaan diakuisisi oleh orang lain.

Lalu apa yang harus dan bisa dilakukan jika pengelolaan domain dan hosting kita masih dikelola oleh orang lain atau orang di luar perusahaan kita?

Klik di sini dong jika ingin tahu apa yang harus dilakukan!

25 KOMENTAR

  1. terima kasih banyak Frenavit utk cara backup dan migrasinya….lengkap banget, sesuai yg ane butuhkan….

    sukses untukmu…

  2. Terima kasih banyak, tutorialnya sangat membantu! Saya sudah coba step-step dari tutorial di website lain dan hanya dengan cara yang di share oleh mas frenavit yang berhasil buat migrasi server hosting saya. πŸ™‚

  3. kalau setting “add on domain” dulu, baru proses copy-paste folder2 ke hosting yg baru gimana sob? berpengaruh gak ya klo langkanya dibalik?

    thanks πŸ™‚

    • Secara teknis tidak ada masalah yg berart, Sob. Hanya saja selama proses pindahan, blog akan down.. Kasihan pengunjung yg datang. Alasan ditaruh di akhir adalah untuk “menyamarkan” proses migrasinya. Mengindari proses maintenance yg kelihatan pengunjung…

  4. waduh..punyaku langsung tak pindah nameservernya…terus gmn nih klo mau mindah data d wp yang lama…yang baru langsung tak instal wp…mohon pencerahannya

  5. Yang satu blogku pake hostgator yang satu lagi penyedia lokal. Bisa digabung ya sebenernya biar hemat.

    Hm, ntar tahun depan nyoba deh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here