Masih sangat membekas sekali di ingatan saya apa yang pernah Almarhum Bapak katakan pada saya tentang sebuah kejujuran. Sore itu saat asyik ngobrol di teras rumah di sebuah desa di Kabupaten Mojokerto. “Ndek Zaman Akhir mengko iku akeh wong jujur bakal terasing, wong nglakoni jujur neng zaman akhir mengko iku ibarate wong seng nyekel mowo nang tangan e”, kira-kira perkataan bapak tersebut jika diartikan ke bahasa Indonesia seperti ini, “Di zaman akhir nanti akan banyak orang jujur yang akan terasing, orang yang berbuat jujur di zaman akhir nanti diibartkan orang yang menggenggam bara apai di tangannya”.

Ternyata apa yang dikatakan leh Almarhum Bapak terjadi. Seseorang yang berbuat jujur dan ingin memberikan pendidikan akan nilai kejujuran ke pada anaknya harus “terasing”. Kejadian terasingnya seseorang yang berbuat jujur ini ternyata tidak jauh dari tempat di mana saya beraktivitas setiap hari, ya di Surabaya.

Kejadian tersebut bermula ketika AL, anak Ny. Siami yang tergolong cerdas dan bersekolah di SDN Gadel 2 Tandes, Surabaya, diminta oleh gurunya untuk ikut berbuat curang dan memberi contekan pada teman-temannya saat Ujian Nasional kemarin. Mengetahui apa yang dialami putranya tersebut, Ny. Siami melakukan tindakan yang benar dengan melaporkan kepada Kepala Sekolah. Namun gayung bersambut yang diharapkan oleh Ny. Siami hanyalah sebatas harapan. Tidak ada respons dari pihak sekolah.

Yang lebih mengenaskan lagi, Ny. Siami yang tujuan awalnya ingin memberikan pembelajaran kepada Al tentang pentingnya nilai kejujuran tersebut, kini harus terasing bahkan terusir dari Desa tempat tinggalnya saat ini. Warga Desa yang juga wali murid siswa SD tersebut marah dan menganggap keluarga Ny. Siami ingin sok jadi pahlawan dan membesar-besarkan masalah. Warga meminta keluarga Ny. Siami meminta ma’af. Meskipun keluarga Ny. Siami memenuhi permintaan warga untuk meminta ma’af, ternyata warga tetap bersikeras tidak mema’afkan keluarga Ny. Siami, malah mencaci maki, dan berteriak2 mengusir keluarga Ny. Siami dari Desa.

*****

Inilah sebuah pertanda bahwa dunia ini sudah berada di akhir zaman. Jujur sebagai seseorang yang pernah duduk di bangku sekolah, contek mencontek kalau boleh saya bilang adalah sebuah bentuk dari kenakalan seorang siswa. Dan jujur saya dulu pernah melakukannya, bahkan hingga di bangku kuliah. Hanya saja contek-mencontek yang dulu sasya lakukan masihlah dalam tahap kewajaran seorang siswa.

Namun jika sampai seorang Guru yang harusnya bisa menjadi panutan ternyata menyuruh siswanya untuk mencontek dan memberikan contekan, saya rasa hal ini adalah hal yang benar-benar salah dan bukan hal wajar serta patut dilakukan oleh seorang Guru.

Apa yang dialami oleh Ny. Siami juga menunjukkan kepada kita semua bahwa tingkat degradasi moral dan etika di Masyarakat kita sudah sangat terkikis dan mengering. Bayangkan saja, seseorang yang ingin berbuat baik dengan memberikan pembelajaran akan pentingnya nilai kejujuran kepada anaknya malah terasing bahkan terusir. Masyarakat sudah dibutakan oleh Nilai yang tampak tanpa memperdulikan nilai-nilai dibalik nilai yang tampak tersebut, seperti nilai kejujuran dan etika. Banarkah nilai kejujuran sudah tiada? dan Orang jujur tak lagi mujur melainkan hancur?

Sungguh sebuah fenomenas sosial yang mengingatkan saya akan sebuah lagu yang dulu saat masih SD sering saya dengar dari microphone desa saat ada pertandingan bola. Sebuah lagu dari Franky Sahilatua yang berjudul Perahu Retak.

Aku heran.. Aku heran… Yang Salah dipertahankan..
Aku heran.. Aku heran… Yang benar disingkirkan..

Mari kita bangkit, selamatkan Negara yang oenuh ketimpangan ini dengan mulai dari Indonesia Jujur, mulai jujur terhadap diri kita sendiri dan orang di sekitar kita..

Salam #IndonesiaJujur

10 KOMENTAR

  1. Begitulah negara kita sekarang ini,, Kejujuran sudah menjadi hal yang tidak dijunjung tinggi lagi.. Jika dengan ketidakjujuran itu mampu menguntungkan dirinya maka tak segan pula mereka meninggalkan kejujuran itu..
    Yang sangat disayangkan adalah mereka yang masih memegang teguh kejujura, mereka akan dikucilkan..
    mari jujur mulai dari diri sendiri,,
    sesungguhnya musuh yang paling berat adlaah diri sendiri.. 🙂

  2. Memang benar moral kita sendiri sudah terkikis. Kenapa begitu? Karena kita sendiri belum tentu sejujur2nya dalam menjalani hidup kita ini.

  3. Mungkin atas dasar, guru tersebut sudah bekerja berpuluh puluh tahun kemudian dipecat, sehingga warga malah menyalahkan orang yang jujur.
    Indonesia kan hidup di antara orang-orang yang “sungkan”an, “kasian” dan sebagainya. Hingga itu menjadi dasar bahwa rasa-rasa tersebut adalah benar.
    Nggak tau deh, vit … speechless

  4. Kejujuran dianggap menjelekkan masyarakat. Kebohongan dianggap mengangkat harkat masyakarat. Masyarakat macam apa itu?
    Tapi aku tetap optimis, selalu ada Ibu Siami yang lain. Teladan #IndonesiaJujur

  5. Sungguh sudah meluas perilaku “jujur mulai terasing”. apalagi sekarang sudah semakin parah, kalau waktu saya sma (3 tahun lalu) seorang guru masih lumanyan bijak, beliau tidak ikut membantu kegiatan contek-mencontek tapi juga tidak seratus persen melarang. karena guruku bilang mencontek lebih baik daripada bertanya jawaban kepada teman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here