Waspada Tawaran Apply Kartu Kredit Baru via Telepon

Masih ingat dengan pengalaman saya saat menerima telepon dari 147 yang saya posting di blog ini beberapa waktu yang lalu? Nah, kali ini saya akan kembali bercerita pengalaman serupa, hanya saja modusnya sedikit berbeda.

Phising-Kartu-Kredit

Untuk sampeyan yang belum tahu cerita saya saat menerima telepon dari 147, sampeyan bisa baca di sini. Jika males nge-klik, singkatnya, posting tersebut adalah pengalaman kecurigaan saya menerima telepon yang super nyentrik, telepon dari nomor 147 yang notabene adalah nomor telepon call center salah satu perusahaan telco nomor wahid di Indonesia. Selidik punya selidik, telepon tersebut adalah “bait” upaya mendapatkan informasi kartu kredit pelanggan oleh orang yang tidak bertanggungjawab.

Nah, kali ini saya kembali mengalami upaya “bait” atau phising informasi kartu kredit. Kali ini modusnya berbeda. Modusnya dengan menawarkan kartu kredit baru via telepon. Mungkin sampeyan mikir tidak ada yang salah dengan penawaran kartu kredit via telepon, tapi hal tersebut akan menjadi buruk saat penelpon meminta detail informasi pribadi kita dengan dalih untuk mengisi form pendaftaran.

Begini cerita lengkapnya….

Sejak awal bulan lalu saya diberi amanah dan kesempatan untuk mendapatkan kartu kredit dari salah satu Bank, saya sering banget mendapatkan telepon tak dikenal yang menawarkan ini itu. Mulai dari asuransi kesehatan, promo aneka macam barang yang belum tentu menjadi kebutuhan saya, dan aneka bentuk penawaran lainnya. Bahkan karena saking sebelnya, saya sampai tega mengaktifkan fitur blocking contact di HP.

Dari sekian banyak telepon yang saya terima, ada sebuah telpon yang berbeda, yakni telepon penawaran untuk apply Kartu Kredit baru dari oknum yang mengaku marketing sebuah Bank. Awalnya tak tertarik, namun karena kelihaian si penelepon yang bersilat lidah bilang bahwa saya terpilih untuk mendapatkan penawaran bisa apply kartu kredit spesial dari program kerjasama maskapai penerbangan nomor wahid dengan pihak Bank. Tertarik lah saya, itung-itung lumayanlah kalau beneran, kan apply kartu kredit gampang-gampang susah. Terus itung-itung lumayan kalau bisa ada kartu kredit tambahan, kan bisa nyicil iPhone baru. *eh*

Setelah haha hihi ngobrol soal penawaran, mulailah penelpon dengan halus menayakan apakah saya bersedia untuk mendaftarkan diri guna mengambil penawaran “special” darinya. Karena sudah kepincut, lanjutlah penelpon mulai menanyakan informasi biodata diri. Karena masih berbunga-bunga, saya jawablah satu persatu mulai dari nama lengkap, tanggal lahir, alamat rumah dan tempat kerja, dan nama ibu kandung. DEG…. Ya, saat sampai di pertanyaan nama ibu kandung, sontak saya stop dan berkilah tidak bisa memberikan informasi ibu kandung dan berjanji akan kasih dalam bentuk tulisan saat mengisi form pendaftaran. Ya, saya meminta untuk bisa melengkapi data diri via form resmi saja. Dan penelpon menyanggupi dan mengiyakan.

Kenapa tiba-tiba saya berhenti saat sampai pertanyaan informasi nama ibu kandung? Seketika itu saya teringat apa yang sering saya sampaikan di depan banyak orang dan teman saat sosialisasi Internet Sehat bahwa kita harus menjaga privasi diri, jangan sembarangan berbagi data pribadi ke orang yang tidak dikenal. Dan seperti yang kita ketahui bahwa informasi data diri yang lengkap termasuk informasi ibu kandung yang kita berikan ke orang berpotensi terjadi penyalah gunaan.

Duh bodohnya saya, bisa dibutakan iming-iming tawaran Kartu Kredit baru sampai lupa sejenak apa yang sering saya sampaikan ke beberapa orang dan teman dekat. Dan Alhamdulillah saya lekas sadar dan terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Hahaha…

Kecurigaan-kecurigaan tersebut tidak seketika muncul lantaran penelpon cukup koperatif untuk tidak memaksakan diri untuk mendapatkan informasi detail data diri saya. Ia menjanjikan pihaknya akan menjadwalkan petugas untuk datang ke tempat kerja saya guna mengantarkan form pendaftarannya. Nah, semakin tidak curiga dong dan saya masih tetap berharap. Hahaha…

Capture-Bait-Kartu-Kredit
*klik utk perbesar gambar

Dua hari, tiga hari saya menunggu kehadiran petugas yang dijanjikan tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Karena masih berharap, telponlah saya ke customer service Bank yang bersangkutan. Dari percakapan dengan CS yang resmi tersebut barulah kecurigaan saya benar-benar terbukti. Sesuai aturan Negara, PIHAK BANK TIDAK PERNAH MEMINTA DETAIL DATA PRIBADI VIA TELEPON, EMAIL, dan BERBAGAI MEDIA NON TATAP MUKA LANGSUNG.

Kecurigaan saya pada modus operasi bait dan phising data pribadi pemilik kartu kredit ini semakin mantep setelah hari ini – selang beberapa bulan dari terima telpon pertama – saya menerima telepon serupa lagi, cuman bilangnya dari Bank yang berbeda. Sudah pernah dan yakin ini modus phising, saya biarkan telpon tersebut dan saya blok nomornya. Eng.. Ing.. Eng.. yang kali ini tidak cukup lihai. Kenapa? Setelah saya cuekin, do’i masih berusaha untuk dapatkan informasi data pribadi saya dengan menghubungi saya via WhatsApp. Ya saya cuekin lah, kan jelas bohong banget bukan?

Jadi, pelajaran dari apa yang saya alami ini adalah:

  1. Jangan percaya pada penawaran kartu kredit baru via telepon, terlebih jika si penelepon minta kita untuk memberikan detail data diri via telepon, chat, dll. Sesuai aturan yang berlaku, PIHAK BANK TIDAK PERNAH MEMINTA DETAIL DATA PRIBADI VIA TELEPON, EMAIL, dan BERBAGAI MEDIA NON TATAP MUKA LANGSUNG.
  2. Jangan mudah memberikan detail data pribadi kepada orang lain, terutama orang yang tidak kita kenal. Kenapa? Karena dengan informasi data pribadi kita, orang tidak bertanggungjawab bisa menyalahgunakan data pribadi tersebut.
  3. Apabila menerima telepon penawaran atau hadiah yang mengatas namakan bank atau perusahaan, jangan langsung percaya. Konfirmasi ke pihak bank atau perusahaan melalui kontak resmi yang ada.
  4. Jangan mudah tergiur tawaran kartu kredit. Ya meskipun itu bukan modus phising, inget pembelanjaan atau dana yang kita tarik dari kartu kredit tetaplah terhitung menjadi hutang kita. Dan hutang itu wajib dibayar. Kalau gak bisa bayar? Gimana? Hehe..
  5. Jangan mudah percaya segala penawaran melalui telepon. Tantang penelepon untuk ketemu. Jika bukan upaya phising, penelepon akan benar-benar akan ketemu dan mendatangi kita.

Tampaknya upaya bait atau phising data diri untuk keperluan membobol kartu kredit ini semakin marak terjadi. Mungkin sampeyan juga mendengar ada forum dan halaman FB yang membagikan informasi kartu kredit milik orang lain di sana. Dan bukan main-main, informasi tersebut benar dan bisa digunakan untuk belanja. Terbukti ada bocah SMP diciduk polisi karena menggunakan data tersebut untuk belanja, setelah pemilik kartu kredit melakukan trace transaksi ke Bank.

Tetap waspada ya kawan! Jangan sampai sampeyan jadi korban phising atau penipuan.

Posting menarik lainnya

16 Comments

  1. Maaf oot. Aku dulu pernah kapok sekali dapat tawaran dari asuransi axa mandiri dgn iming2 auto approve kartu kredit mandiri. Tau2 autodebet gitu ke rek tabungan. Maklum saat itu masih awam.

    Trus ada lafi, pas udh daftar kartu MCC mandiri, sering bgt ditelponin sama asuransi cygna.

    Semenjak itu kalau ada no tdk dikenal nelpon selalu deg2an dan males ngangkat. Kalaupun terpaksa angkat dan nawarin yg aneh2, langsung aku putus.

    Emang bahaya apalagi minta data gitu, apalagi data nama ibu kandung, nama hewan peliharan,dsb. Semacam dia udah tau itu key untuk membobol email dan data penting kyk rek bank, dll.

  2. Aku ratau ngangkat telfun nek nomere durung kesimpen ndik hapeku. Misale dee sms disik pingin kenalan, tak takoni disik nama alamat sampe berat badan tinggi badan hahahaha…

  3. saya baru aja di tlfn yg kata nya dari bank mandiri cabang,dia cuma tnya2 dan mta no hp.dan cocokkan data alamat sya.gk detail2 amat si.. kata nya saya karyawan terpilih dpt fasilitas kartu kerdit.

  4. Waduhh, pernah pengalaman kek begini sebulan yg lalu. Dan karena masih awam, saya kasih data pribadi 😭

    Efeknya bisa bobol rekening kita ya?

    1. wah barusan saya dapat telpon, ceritanya sama persis dengan yang ditulis blog ini. Bahkan juga setelah di telp, mbaknya whats app saya dengan detail itu (persis dengan yang di contoh whats app di atas).
      Awalnya sewaktu di telp, saya tidak sadar kalo ini phising tapi karena saya tidak bawa kartu kredit jadi data yang diminta tidak bisa saya jawab. Lalu mbaknya whats app, nah sewaktu mengisi whats app itu saya langsung tersadar dengan nama ibu kandung. Langsung saya search di google dan menemukan blog ini, jadi saya semakin yakin kalo ini phising.
      Waktu saya tanya mbaknya tentang tanda tangan di formulir gimana? kan saya nda punya form nya, dia bilang akan coba di palsu dia. Wah ini namanya jelas penipuan.
      Bagi yang sudah telanjur memberikan data kartu kredit referensi, menurut saya sebaiknya di block aja kartunya atau minta dibuatkan kartu baru dengan nomer yang berbeda (biasanya dikenakan biaya admin Rp 50ribu atau Rp 100ribu).

  5. Wah, sama ni, baru saja saya dihubungi oleh seseorang yg bisa membantu membuatkan kartu kreditPlatinum, saya dimintai upload scan ktp, npwp dan kartu kredit. Bener gak ya prosedurnya seperti itu untuk dapat CC atau sebenarnya itu cuma sebagai bait saja ?

  6. Yg sharing trlalu lebay…
    Buktinya bnyak nasabah ygenjoy aja dibuatkan krtu kredit dgn cara spt itu. Ga semuanya sales kartu kredit spt itu kali…
    Mgkn cm anda saja yg trlalu lebay curiga tingkat dewa…

  7. ngehek..:D barusan aja dpt telpon lgsung browsing bener deh
    kecurigaan:
    – kesaya yg telpon bahasanya tidak terlalu formal tidak seperti biasanya org bank
    – nomornya biasa bukan nomor kantor atau bank
    – minta pakai WA saat saya bilang tdk tertarik helo ini formal forbiden no chatting kyak jual online
    mungkin yang terlanjur kasih data ya klau sebelumnya sudah punya kartu kredit ya minta ke bank amanin cc nya.. klau belum punya dan gak pernah pakai online banking agak aman sih…
    nama ibu kandung memang paling harus di amankan kenapa org selalu pangil ibu2 dengan nama bu joko bu bambang atau bunyoto mungkin buat ngamanin nama asli πŸ˜€ just kidding πŸ˜€

    Terimakasih buat infonya mas.

  8. Ini bukan penipuan kok, memang benar mereka itu marketing pihak ketiga jadi bukan karyawan bank, tapi memang bener data2 yg kita kasih itu bakalan diisikan ke form kartu kredit, saya juga dulu sempet gak percaya tapi kata temen itu bukan penipuan yaudah saya isi data2, trus akhirnya di telfon banknya langsung, dan akhirnya diacc trus kartunya sampe hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *