Dag Dig Dug Nyetir Naik ke Puncak Manoreh di Malam Hari

Ini bukan kali pertama saya naik ke Puncak Manoreh alias Gunung Kelir, kediaman seorang teman yang saya kenal melalui aktivitas Nge-Blog. Beliau adalah Mas Toto Sugiharto, juragan Kambing Etawa dan Tower BTS – kami mengenalnya demikian. Memang ini kali sekian saya naik ke Gunung Kelir, namun di kunjungan Minggu (26/10/2014) malam kemarin ada yang membuat perjalanan saya beda dan itu pula yang membuat saya ingin membagikan melalui postingan ini.

Jika selama ini saya naik ke Gunung Kelir karena ada acara yang diselenggarakan di sana seperti acara Ziarah Wali Blogger (kali pertama saya ke sana) dan Ngopi Kere, namun perjalanan naik malam itu bukan karena ada acara di sana, melainkan untuk main dan mengembalikan mobil tepatnya. Huehehe…

Berawal dari ada acara Jagongan Media Rakyat di Jogja dan tempat di mana saya berkarya meminjam mobil dari sang juragan Gunung Kelir serta status saya yang merangkap sebagai supir. Hihi.. Minggu malam sebelum keesokan harinya saya bertolak ke Jakarta, saya diberitahu Mas Mataharitimoer (MT) bahwa kami diminta untuk naik ke Gunung Kelir, mengembalikan mobil sekaligus silaturahmi. Tanpa pikir panjang, saya iyakan ajakan tersebut.

Kemudian saya terdiam sejenak, balikin mobil ke Gunung Kelir, di antara kita berdua hanya saya yang bisa nyupir, berarti saya harus nyetir naik ke Gunung Kelir, naik ke gunung kelir artinya harus melewati jalanan berkelok naik turun tajam. Deg… Bismillah, siap saja.

Inilah poin yang ingin saya ceritakan. Harus nyetir ke Puncak Manoreh yang berdasarkan pengalaman naik ke sana medannya saya kategorikan cukup berbahaya. Jalanannya naik turun, berkelok, dengan jurang sebagai pembatas jalan, plus naiknya malam hari. Dan ini adalah kali pertama saya nyetir di pegunungan saat malam hari. Dag Dig Dug sudah saya.. Tapi kalau tidak berangkat ya gimana? Mobil harus dikembalikan.

Kurang lebih pukul 20.30 WIB dengan kepala membayangkan jalan yang harus dilalui, saya dan mas MT bertolak dari daerah Tugu KM 0 Yogyakarta menuju arah barat ke daerah Kaligesing, Purworejo. Syukur Alhamdulillah ada Ki Demang Suryaden yang baik hati mau memandu kami berdua naik ke Gunung Kelir. Namun tetap Dag Dig Dug masih ada…

Perlahan tapi pasti mobil yang saya kemudikan bergerak membuntuti mobil yang dikendarai Ki Demang menyusuri jalanan gelap sebelum mulai menanjak. Dan tak lama, tanjakan sudah terlihat, ambil nafas panjang, tancap gas, saya bisa melewatinya.

Kurang lebih 30 menit kami bertiga berkelak-kelok naik turun jalanan ke Gunung Kelir. Dan selama itu pula perasaan Dag Dig Duh plus saya harus berulang kali menahan nafas ketika menaiki tanjakan dan berkelok tajam ditambah kabut tebal mulai turun membuat jarak pandang ke jalan terbatas. Semakin membuat saya tegang memegangi kemudi mobil dan injak rem, gas, kopling serta pindahin persneling. Hehehe… Harap maklum ya, driver masih amatir. πŸ˜€

Saya tidak bisa berkata-kata lagi untuk menceritakan bagaimana perasaan saya malam itu. Mungkin video perjalanan naik ke Gunung Kelir yang diabadikan oleh mas MT di atas bisa menjelaskan semuanya. Maaf ya kalau di video tersebut saya sedikit teriak-teriak karena itulah satu-satunya cara yang bisa saya lakukan untuk mengurangi ketegangan. Yang berkenan, monggo di simak. πŸ˜€

Salam Rock & Roll, akirnya saya nyetir naik ke Gunung Kelir dan nyetirnya di Malam Hari. Sebuah pengalaman yang mungkin belum tentu datang dua kali saya rasa. Soalnya mungkin saat nanti ada kesempatan naik, saya akan duduk di bangku penumpang. Huehehehe… Tapi kalau ada kesempatan ke-2, ya siapa takut.. πŸ˜›

Terimkasih banyak untuk Mas MT yang sudah merekam dan edit video perjalanan Mendaki Puncak Manorehnya. πŸ˜€

Posting menarik lainnya

9 Comments

  1. Wah iso diajak liburan ki.. nyarter mobil, awakmu sing mbayari plus nyetiri! Ajiz tukang foto, aku dadi fotomodele. Ayo budal drek! hahahahahahha…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *