Malam Mingguan di Surabaya Nonton Ludruk? Siapa Takut…

Ludruk-Campur-Surabaya

Menghabiskan malam minggu dengan nonton, jalan-jalan di Mall, atau duduk-duduk di taman Surabay? Hmmmm… Saya kok merasa aktifitas menghabiskan malam mingguan seperti itu sudah biasa banget dan mainstream. Hihi.. Alih-alih nyari rencana mau ngapain malam mingguan kemarin, saya dapat informasi dari Twitter jika Sabtu (1/8/2015) kemarin mulai jam 19.00 WIB di Gedung Barat Balai Pemuda Surabaya digelar pagelaran Ludruk Campur.

Sejenak mikir, kayaknya malam mingguan sambil nonton ludruk oke nih. Secara jika ditanya kapan terakhir saya nonton ludruk secara live, saya bingung. Sepertinya sudah lama sekali. Jauh lebih lama jika dibandingkan dengan kapan terakhir nonton film box office di Bioskop. Maklum, seperti kebanyakan pemuda kekinian, saya lebih sering nonton film di bioskop dibandingkan nonton pagelaran kesenian yang menjadi salah satu ciri khas dari Provinsi dan Kota di mana sekarang saya beraktifitas tersebut.

Oh ya, buat sampeyan yang bertanya-tanya apa sih Ludruk itu, Om WikiPedia menjelaskan bahwa Ludruk adalah suatu kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang dipergelarkan di sebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan, dan sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. Selengkapnya tentang apa itu Ludruk bisa sampeyan baca di sini.

Jam 7 malam teng saya sudah berada di parkiran komplek Balai Pemuda. Sayup-sayup suara rancak gamelan pengiring pagelaran ludruk terdengar dari Gedung Barat Balai Pemuda hingga Parkiran. Suasana komplek Balai Pemuda malam minggu itu cukup ramai, bukan karena ada pagelaran Ludruk saja, tetapi juga ada beberapa pemuda-pemudi yang tengah berlati tari remo, berkunjung ke perpus kota Surabaya, kopi darat dengan teman sehobi, dsb.

Saat saya memasuki gedung barat Balai Pemuda, saya melihat di panggung utama sudah ada dua wanita dengan busana kebaya tengah mendendangkan tembang-tembang jawa campuran. Ya, pagelaran Ludruk malam itu diawali dengan campursarian. Hmmm.. Lumayan lah, itung-itung mendengarkan musik-musik campursari dan sedikit mengenang almarhum bapak yang suka tembang-tembang campursari. *jadi kangen bapak* Hehehe…

Setelah 2-3 lagu didendangkan, saya baru tahu jika di Pagelaran Ludruk malam itu ada bintang tamu seorang penyanyi pop yang cukup populer kelahiran Surabaya, Ika Putri. Sampeyan gak tahu siapa itu Ika Putri? Sama, saya juga. Haha… Setelah Googling, saya baru tahu bahwa dia adalah musisi wanita yang menyanyikan lagu Mr. Judge dan Aku Perawan – OST. film Virgin yang pernah populer di radio-radio anak muda beberapa tahun lalu.

Malam itu, Ika Putri yang berbalut kebaya memeriahkan gedung barat Balai Pemuda Surabaya dengan mendendangkan beberapa tembang campursarian. Ya.. jika biasanya Ika Putri biasa menyanyikan lagu-lagu pop, kali ini dia campursarian. Ternyata, medok Suroboyoan Ika Putri juga masih kental lekat di diri arek Suroboyo kelahiran 15 Maret 1986. Ini membuat cengkok tembang campursari yang ia bawakan semakin mantap. Tak hanya berdendang, Ika Putri juga ikut berlakon dalam pagelaran Ludruk malam itu.

Bukan Ludruk jika tidak ada dialog/monolog yang membuat penontonnya gar ger tertawa terbahak-bahak. Setelah dibuka dengan tari Remo yang jadi ciri khas sebuah pertunjukan ludruk, mulailah satu-persatu pelakon keluar menghibur para pengunjung yang memadati gedung barat Balai Pemuda Surabaya. Dengan bahasa lugas Suroboyoan, parikan dan banyolan dari pementasan ludruk dengan judul “Bara Perjuangan” tersebut sanggup membuat penonton tertawa gar ger dan semakin meriah dengan kehadiran Ika Putri yang ikut dalam cerita tersebut yang berperan sebagai kekasih Hengky, mata-mata Belanda.

bersama-ika-putri-di-Ludruk-CampurOverall, tidak salah memilih nonton pagelaran Ludruk untuk mengisi malam mingguan saat itu. Bisa dapat aktifitas yang berbeda dengan biasanya, menghilangkan stress aktifitas kerja seminggu yang lalu dengan tertawa lepas karena banyolan-banyolan khas Ludruk, trus bisa foto selfie bareng Ika Putri.

Terima kasih untuk @sayadito dan @riizkaaputri yang bersedia diajakin nonton ludruk pas malem minggu. Malam minggu besok enaknya kemana lagi ya guys? Ada ide? Atau kamu mau ikutan malam mingguan seru dan berbeda di Surabaya? Ayo saja.

 

Oh ya, jika sampeyan tanya apa bedanya Ludruk dengan Ketoprak sih? Ludruk sangat berbeda dengan ketoprak. Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari (biasanya) kalangan wong cilik. Gak percaya? Coba kamu sempatkan diri nonton ludruk yang digelar setiap bulannya di Balai Pemuda, atau berkunjung ke Komplek Taman Hiburan Remaja (THR) Surabaya yang di sana setiap hari digelar pementasan Ludruk Irama Budaya.

Posting menarik lainnya

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *