Ternyata Mainan Tak Lagi Dunia Anak-anak Saja

Jak Toys Fair 2015

Mainan, banyak orang atau di antara kita berfikir bahwa mainan adalah dunianya anak-anak. Erat kaitanya sama-anak atau saat ngomong mainan pasti mengarahnya ke anak-anak. Masih gak percaya? Pasti pernah dengar ada yang berucap “Sudah gedhe kok masih beli mainan saja sih, dek?.”

Tapi, saat Minggu (08/3/2015) sore kemarin saya datang di acara Jakarta Toys & Comics Fair 2015 yang digelar di Kartika Expo Balai Kartini, Jakarta, sontak segala pernyataan yang saya utarakan di paragraf pertama postingan ini langsung gugur berjatuhan. Kenapa?

Di acara yang bertajuk pesta mainan dan komik ini saya melihat mayoritas pengunjung yang hadir adalah remaja dan orang dewasa. Kalau boleh dibilang perbandingannya 50% orang dewasa, 35% remaja, dan 15% anak-anak. Luar biasa bukan? Padahal pameran mainan dan komik, yang menurut sebagaian orang termasuk saya, dua hal tersebut adalah dunia Anak-anak.

Pantas lah banyak orang dewasa dan remaja yang hadir, kan anak-anak tak bisa bebas bepergian seperti orang dewasa dan para remaja, mereka harus didampingi orangtua. Dan kebanyakan mereka tidak tahu informasi jika ada acara Jakarta Toys Fair.

Ya, saya juga sempat berfikir demikian. Namun saat saya perhatikan lebih lanjut, ternyata orang dewasa dan remaja yang hadir di acara pemeran tahunan ini membelanjakan duitnya untuk membeli mainan yang mereka sukai. Untuk memenuhi hawa nafsu rasa kepinginannya sendiri. Meskipun banyak orang dewasa yang datang ke acara ini bersama anaknya, tetap porsi belanja mainan untuk dirinya sendiri jauh lebih banyak dibandingkan anaknya. Bahkan mungkin ada yang membujuk anaknya untuk tidak beli mainan di situ, sementara bapaknya saja yang beli. πŸ˜›

Fakta lainnya. Meskipun jelas tertulis “Mainan ini untuk anak-anak umur sekian sampai sekian” dalam setiap kemasan atau box mainan yang dijembreng di acara tersebut yang menunjukkan bahwa mainan tersebut memang untuk anak-anak, tapi yakin kita tak akan rela mainan tersebut jatuh ke tangan anak-anak. Bukan tanpa alasan, mainan-mainan tersebut pasti tak akan berumur panjang saat ada di tangan anak-anak dan sayang jika sampai rusak karena harga yang tidak murah juga.

Karena harganya yang mahal, mainan tersebut memiliki bentuk dan nilai estetika lain yang mempesona, misalkan detail dari mainan yang benar-benar detail plus ditambah adanya fans dari karakter lakon dalam sebuah komik, akhrinya membuat mainan yang awalnya diperuntukkan untuk anak-anak menjadi sebuah barang koleksi dengan nilai yang lebih tinggi. Wal hasil, yang memainkan bukan lagi anak-anak, tetapi anak-anak dengan postur lebih gedhe alias orang dewasa. πŸ˜€

Jadi, dengan melihat kondisi yang ada, menurut sampeyan, apakah masih relevan kata mainan selalu dikaitkan dengan dunia anak? Kalau saya sih, tidak. Wong buktinya sekarang mainan juga dimainkan anak-anak yang sudah berjenggot πŸ˜›

Posting menarik lainnya

13 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *