Kepincut Sejarah Majapahit

majapahit-empire

majapahit-empire

JAS MERAH, sebuah selogan yang dipopulerkan pertama kali oleh Sang Proklamator Indonesia, Bpk. Ir. Soekarno yang merupakan kependekan dari Jangan Sekali Sekali Melupakan Sejarah. Slogan yang saya yakin dikalangan anak muda saat ini hanya berhenti di slogan saja.

Dan ngomong-ngomong soal sejarah, belakangan ini saya tertarik dengan sejarah Kerajaan Majapahit, salah satu kerajaan di Indonesia yang pernah berjaya lebih kurang selama 300 tahun lamanya. Lalu, kenapa saya bisa kepincut dengan sejarah Majapahit?

Sebagaian dari teman-teman pasti bertanya demikian – GR dikit -, kenapa bukan tertarik dengan sejarah kemerdekaan Indonesia saja? Jujur sulit untuk menjelaskan kenapa saya kepincut dengan sejarah Majapahit. Tapi tak ada salah mencoba untuk mengungkapkannya dalam postingan ini, mungkin bisa menginspirasi teman-teman agar kepincut pada sejarah Majapahit juga. Hehehe.. 😀

Dari berbagai sumber sejarah, prasasti, dan juga puing-puing peninggalan kerajaan Majapahit dipastikan bahwa kerajaan yang memiliki andil besar berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini lokasinya ada di daerah Kec. Trowulan, Mojokerto – Jawa Timur. Ya, ikatan kesamaan daerah di mana saya lahir dan tumbuh besar inilah mungkin alasan mendasar saya kepincut untuk mengetahui lebih banyak sejarah Majapahit.

Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, sering sekali saya mendengar dongeng-dongeng seputar legenda Majapahit dari Almarhum Bapak dan sesepuh desa tempat saya tinggal. Beberapa kali, Almarhum Bapak juga sering mengajak saya main ke Trowulan, mengunjungi candi dan situs-situs peninggalan Majapahit dan menceritakan legenda dari setiap situs peninggalan yang ada. Bahkan ketika bepergian ke beberapa Kota di Jawa Timur bersama Almarhum Bapak, beliau juga sering menceritakan legenda kota tersebut terkait dengan Kerajaan Majapahit.

Seiring bertambahnya usia dan isi dalam otak ditambah era keterbukaan informasi yang semakin membahana, entah kenapa semakin ke sini informasi-informasi mengenai sejarah Majapahit mulai membias. Banyak saya temukan tulisan tentang Majapahit di blog atau buku yang bias informasinya. Maksudnya, tulisan yang ada dalam buku atau blog tersebut sedikit berbeda dengan apa yang pernah diceritakan Almarhum Bapak dan sesepuh desa.

Tidak itu saja, baru-baru ini saya juga mendapati sebuah kisah yang sangat berbeda tentang peninggalan salah satu candi yang berada di dekat rumah. Parahnya lagi, kisah yang berbeda tersebut dikisahkan oleh tetangga saya yang kebetulan didaulat oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan sebagai juru kunci candi tersebut. Nah loh, kenapa ada sampai ada beda kisah untuk sebuah sejarah? Yang mana yang benar? Karena kebingungan inilah hasrat kepincut pada sejarah Majapahit semakin besar dan bulat.

Intinya, walaupun ada yang pernah mengatakan “Sejarah ditulis oleh pemenang” yang memiliki arti ganda bahwa sejarah yang ditulis adalah dari sisi yang menang alias pro, dan kadang sang pemenang menghilangkan kisah-kisah dari yang kalah atau bahkan mungkin menyudutkan sisi yang kalah atau yang kontra dalam sejarah tersebut.

Ingin memulai…

Kepincut saja kemudian tidak melakukan apa-apa tampaknya tak ada bedanya dengan mereka yang bisanya ngomong saja tapi tidak pernah melakukan sesuatu. Saya tidak ingin demikian. Karena rasa penasaran yang semakin tinggi, saya putuskan untuk mulai membaca dan menulusuri sejarah kerajaan majapahit. Langkah pertama yang saya lakukan adalah napak tilas kembali situs-situs peninggalan majapahit yang ada di Trowulan. Kalau follow twitter saya di @frenavit pasti tahu, sempat buat #MajapahitTrip bersama Arek-arek Suroboyo – yang postingan laporan perjalanannya masih nangkring di draft blog ini… hehehe

#MajapahitTrip
#MajapahitTrip

Selain itu, saya mulai tertarik untuk membaca buku-buku yang bertemakan Majapahit. Setelah browsing dan tanya sana-sini, akhirnya saya mendapatkan beberapa nama penulis buku bertema Majapahit yang berdasarkan masukan dari beberapa teman, tulisannya menarik untuk dibaca, seperti Langit Kresna Hariadi, Damar Shasangka, dan Agus Sunyoto.

Sekilas melihat sinopsisnya, buku bertema Majapahit karya Langit Kresna Hariadi dan Damar Shasangka lebih ke novel sejarah yang dibuat berdasarkan naskah-naskah klasik Jawa. Kalau buku-buku karya Agus Sunyoto tidak langsung bersentuhan dengan Majapahit, tetapi lebih ke peradaban islam di era Wali Songo yang sudah ada di jaman Majapahit yang bisa digunakan untuk melihat Majapahit dari sisi peradaban umat Muslim. Kira-kira sih seperti itu, kalau salah ya harap maklum, kan belum membaca semua bukunya.

Yang jelas, saya benar-benar kepincut untuk mengetahui minimal membaca kembali sejarah peradapan Majapahit yang pernah jaya di bumi Nusantara ini.

Posting menarik lainnya

2 Comments

  1. Novel-novel koleksiku yang aku suka juga berlatar belakang kerajaan Majapahit. Jadi inget ada yang minjem novel Gajah Mada belum dibalikin hihihi~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *