Category: Pemikiranku

Just from My Mind

Sikap Berpolitik Seorang Frenavit Putra itu…

politics

Hiruk pikuk Pemilihan Presiden saya rasakan semakin hari semakin membuat saya sedikit menghindari beberapa kanal media sosial yang ada. Ya, karena mayoritas topik yang diperbincangkan di kanal-kanal media sosial itu tak ayalnya sebuah pasar, ramai teriak-teriak menawarkan dagangannya, saling klaim bahwa barang dagangannya paling berkualitas, layak dipilih, dan dibeli. (more…)

More

Penawaran Asuransi, Kenapa Harus “Memaksa”?

sales asuransi

Beberapa hari belakangan ini saya sedikit dibuat jengkel dengan telepon dari salah satu perusahaan asuransi. Bayangkan saja, setiap pagi mereka telepon ke Saya untuk menawarkan paket asuransi. Ya, walaupun Saya orangnya tidak begitu sibuk dan dikejar-kejar waktu, Saya merasa telepon dari sales Asuransi tersebut cukup mengganggu karena apa yang mereka lakukan kesannya memaksa banget supaya Saya apply paket asuransi yang mereka tawarkan. Karena “Memaksa” tersebut Saya bukan jadi tertarik, malah jadi empet dan dari pada empet itu saya pendam sendiri mending saya bagikan di postingan ini. Siapa tahu bermanfaat. Kalau tidak ya tidak apa-apa. :) (more…)

More

Harga yang Cukup Mahal untuk BBM dan Messengers Saja

blackberry-internet-service-Sudah sekitar 4 tahunan saya menjadi pengguna Blackberry dan berlangganan Blackberry Internet Service (BIS) untuk mendukung aktifitas sehari-hari saya. Namun beberapa waktu terakhir, saya cukup dibuat mikir dengan tarif langganan layanan BIS untuk smartphone Blackberry yang saya gunakan. Saya berfikir bahwa semakin lama, tarif berlanggananya BIS semakin tidak masuk akal.

Lanjut Baca…

More

Benarkah “Wanita” menjadi ketakutan Web Programer dan Web Designer?!

Kemarin sore(01/07) kebetulan saya menemukan sebuah Infografis yang mengupas data tentang Web Programers dan Web Design. Dari Infografis tersebut ada satu point yang membuat saya sangat tertarik hingga mempostingnya di blog saya ini. Point dari Infografis yang menarik saya adalah “What Web Designer and Web Programers are afraid,” kalo dalam bahasa Indonesia artinya, apa yang menjadi ketakutan Web Designer dan Web Programers. Emang ada apa?! ada satu ketakutan yang membuat saya merasa mak jleb dan harus membahasnya di twitter sore ini. Ketakutan tersebut bukanlah ketakutan pada  kode program, error, client, atau mungkin fee, melainkan “Women”, WANITA.

(more…)

More

Sebuah Cerita Mengetuk Pintu Hati dari Ruang Pengadilan

Pengadilan, mungkin sebagaian orang ketika baru mendengar kata ini akan bergidik atau bahkan acuh. Bergidik ketika mendengar kata pengadilan juga bisa berarti dua hal, bergidik karena ngeri jangan sampai masuk ke pengadilan karena kasus pelanggaran undang-undang dan yang kedua bergidik malas mendengar kata pengadilan karena tidak ada keadilan lagi di sana. Ya, akhir-akhir ini masyarakat di suguhi kenyataan bahwa ada drama di pengadilan. Drama yang sependek pengetahuan saya menjungkir balikkan fakta, yang benar jadi salah dan yang salah dapat tertawa bebas. Bahkan akibat drama tersebut muncul lakon “mafia peradilan”. Tingkat kepercayaan masyarakat ke lembaga untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah akhirnya luntur.

Namun malam ini saya mendapatkan sebuah cerita tentang sebuah drama di lembaga peradilan ini. Bukan cerita tentang proses peradilan Gayus Tambunan atau lagi proses peradilan Nazarudin yang melibatkan artis cantik yang kabarnya susah berkata jujur itu. Cerita ini hanyalah cerita proses peradilan kasus pencurian Singkong oleh seorang Nenek yang tengah mengalami kesusahan ekonomi yang harus berurusan dengan sebuah perusahaan besar yang menuntut pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan nenek tersebut. Namun meskipun masalahnya tak sebesar masalah Gayus atau Nazarudin, di cerita ini saya bisa melihat bahwa masih ada mutiara di tengah kubangan air keruh pengadilan tersebut. Lebih detailnya silahkan baca cerita berikut.

***

keadilan di peradilanDi ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun seorang laki yang merupakan manajer dari PT yang memiliki perkebunan singkong tersebut tetap pada tuntutannya, dg alasan agar menjadi cnth bagi warga lainnya.

Hakim menghela nafas. dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.

”Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU”.

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Namun tiba-tiba hakim mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang Rp 1 juta ke topi toganya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang sidang.

‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini, sebesar Rp 50 ribu, karena menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.

“Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”

sebelum palu diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp 3,5 juta dan sebagian telah dibayarkan kepanitera pengadilan untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah penuh kebahagian dan haru dengan membawa sisa uang termasuk uang Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT yang menuntutnya.

Semoga di indonesia banyak hakim-hakim yang berhati mulia sepertii ini.

***

Cerita ini saya ambil dari Facebook seorang teman yang menshare ulang cerita dalam sebuah foto yang di upload di Profile Facebook Polres Sidoarjo. Ya ini adalah cerita nyata sebuah kasus yang terjadi di Kota Sidoarjo. Semoga kedepan di Negeri ini semakin banyak hakim seperti hakim yang ada di cerita di atas sehingga Kata Pengadilan tak lagi menjadi kata yang membuat orang bergidik bahkan acuh ketika mendengarnya.

More

Pilih Vote Komodo atau Selamatkan Kebun Binatang Surabaya | #saveKBS

Ramai riuh akhir-akhir ini saya jumpai di media mainstream hingga social media tentang sebuah kampanye untuk mendukung Komodo menjadi pemenang di ajang New 7 Wonders. Mulai dari yang sangat semangat untuk mendukung Komodo menjadi juara New 7 Wonders, hingga ramai kontroversi yang menanyakan keabsahan, legalitas, dan kebenaran lembaga penyelenggara New 7 Wonders yang katanya dari Swiss tersebut.

Jujur, melihat riuh ramai New 7 Wonders ini hanya mebuat saya tersenyum. Bagaimana tidak, beberapa waktu yang lalu BBM saya yang setiap hari sepi notifikasi mendadak ramai notifikasi Broadcast Message (BM) dari teman-teman yang ada dikontak untuk ikutan SMS yang katanya hanya dikenakan tarif Rp. 1,- per sms untuk Vote Komodo. Lucunya lagi, ada beberapa teman yang awalnya getol banget BM mengajak vote Komodo di New 7 Wonders berubah pikiran 180o menyebarkan BM bahwa New 7 Wonders itu gak jelas, scam, dll. Bingung kan? Kalo saya, stay cool saja. Dan saya tergolong manusia pelit, walau hanya dikenakan tarif Rp.1,- saya enggan untuk ikutan sms kayak gituan. Update terakhir sih, Komodo masuk sebagai nominasi di New 7 Wonders. Sekali lagi masih menjadi nominasi bukan juara.

Jauh dari hiruk pikuk, ramai riuh kontroversi dukungan untuk Komodo masuk New 7 Wonders, ada sebuah fakta yang tidak diketahui banyak orang bahkan pemerintah yang pro dengan Vote Komodo for New 7 Wonders, bahwa ada beberapa Komodo yang tidak dijaga dan dirawat dengan baik dan mati. Yang lebih miris lagi, Komodo yang mati tersebut berada di sebuah Kebun Binatang yang menurut hemat saya sebagai manusia biasa hewan-hewan yang ada dikebun binatang akan dirawat dan diperhatikan dengan baik karen mereka berada dalam kandang yang membatasi mereka untuk mencari makan layaknya di alam liar.

Skuter01

Salah satu bentuk Demo #SaveKBS

Tempat di mana beberapa komodo mati tersebut adalah di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Selain Komodo sebenarnya ada beberapa binatang lain yang bernasib sama dengan Komodo, seperti ular phyton, rusa bawean yang tergolong binatang langka dan dilindungi, dan beberapa binatang lain. KBS sendiri akhir-akhir ini juga dikabarkan tengah menghadapi sebuah masalah yang pelik, dengar-dengar masalah keuangan dan masalah manajemen.

Melihat 2 fakta di atas yaitu semangat untuk memilih Komodo masuk ke New 7 Wonders dan masalah riil yang dihadapi komodo dan hewan-hewan dilindungi di KBS tersebut miris memikirkannya. Di satu sisi ada beberapa kelompok semangat banget untuk menjadikan komodo “object eksploitasi” dengan memasukkannya ke New 7 WOnders, sisi lain ada komodo yang dibiarkan mati begitu saja di sebuah Kebun binatang. Ibaratnya hanya memanfaatkan momen namun tidak pernah becus memperhatikan dan merawat objek untuk momen tersebut.

Saya perkirakan ada 10 juta sms masuk untuk vote komodo (CMIIW) yang per smsnya dikenakan tarif Rp 1,-. Artinya telah terkumpul sekitar Rp 10.000.000,- uang. Coba uang yang terkumpul ini lebih digunakan untuk menyelamatkan nasib komodo atau hewan lain yang ada di Kebun Binatang, taman nasional, atau apalah. Saya yakin pasti lebih bermanfaat dibandingkan hanya untuk sekedar vote yang uang hasil vote tersebut tidak jelas dikemanakan!

Ini uneg-uneg saya tentang Vote Komodo dan Selamatkan KBS, bagaimana pendapat teman-teman perihal Pilih Vote Komodo atau Selamatkan Kebun Binatang Surabaya?

Img Credit : Detik Surabaya Foto

More